Sabtu, 05 November 2011

MEMASUKI DUNIA ANAK




Sikap kooperatif anak dengan sendirinya akan muncul jika orang tua atau guru menempatkan diri dalam dunia anak.

Dalam sebuah seminar parenting, seorang praktisi gizi bernama Dra. Rienani Mahardi mengatakan bahwa tidak ada susu yang membuat anak cerdas. Penulis cukup dibuat termangu mendengar pernyataan tersebut. Dra.Rienani menambahkan bahwa peran susu adalah sebagai pemasok gizi, sedangkan yang menentukan kecerdasan anak adalah stimulasi, makanan yang bergizi lengkap, imunitas yang kuat dan kasih sayang.

Susu memang sangat bermanfaat bagi tumbuh kembang anak dan membantu menjaga daya tahan tubuh serta menjaga kesehatan saluran cerna. Sementara 80% sistem daya tahan tubuh diproduksi dalam saluran cerna. Saluran cerna yang sehat, awal daya tahan tubuh yang kuat.

Dengan bekal pertumbuhan dan daya tahan tubuh yang optimal, tentu saja seorang anak dapat lebih luas mengembangkan diri dan bakatnya. Ciri anak berbakat juga memiliki perkembangan motorik yang lebih cepat dibandingkan dengan anak biasa. Ia akan mampu lebih cepat memegang dan membedakan bentuk serta warna. Cirri lainnya dari anak berbakat adalah senang menjelajahi lingkungan dan mengajukan pertanyaan menggelitik dan tak terduga.

Lantas apa yang kita berikan agar bakat anak dapat terasah dan berkembang menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi dirinya? Sebagai orang tua, guru atau fasilitator kita bisa memberikan banyak hal, misalnya seperti yang dilakukan oleh guru-guru di Prima Sakinah Islamic School, yaitu dengan menyediakan lingkungan yang nyaman, memberi rasa aman dengan memberikan ikatan emosional yang erat. Memberikan kebebasan kepada anak untuk bergerak aktif, mengekplorasi lingkungan, bermain sebebasnya dengan teman sebaya, menerima anak apa adanya, orang tua/guru menjadi contoh yang baik dan bertanggung jawab bagi anak, mendengarkan anak agar memberikan ruang bagi ide dan perasaannya, mendidik anak melalui kegiatan bermain yang menyenangkan tanpa paksaan sesuai kemampuan dan kebutuhan anak.

Dalam acara parenting dengan orang tua siswa, penulis juga sempat ditanya “bolehkah memotivasi anak dengan cara membandingkan antara yang satu dengan yang lainnya?”. Penulis berpendapat bahwa membandingkan anak untuk memotivasi boleh dilakukan, asalkan anak dibandingkan dengan dirinya sendiri. Membandingkan anak dengan dirinya sendiri seperti misalnya “Bagus nak, ibu senang hari ini kamu sudah bisa duduk dan bermain puzzle lebih lama daripada kemarin” dan penulis tidak sependapat jika orang tua/guru membandingkan anak dengan orang lain, karena pada dasarnya setiap anak memiliki kepribadian dan kemampuan masing-masing yang unik, dan keunikan pada setiap anak itu harus kita hormati dan kembangkan secara proporsional dan maksimal.

Agar anak mau bersikap kooperatif terhadap orang tua dan guru pada saat berinteraksi atau belajar dengan kita, maka kita harus masuk ke dunia anak. Misalnya terhadap anak yang menyukai hal-hal yang bersifat visual, tataplah matanya ketika berbicara dengannya. Kepada anak yang peka terhadap suara, gunakan selalu suara yang lembut. Sedangkan kepada anak yang menyukai kontak fisik atau menonjol sifat kinestetiknya, maka berikan sentuhan yang lebih banyak terhadap anak tipe ini. Untuk memahami anak, kita harus masuk ke dunia anak dan memahami anak kita, lalu didiklah mereka dengan penuh cinta, kasih sayang dalam joyful learning concept (konsep pembelajaran yang menyenangkan) atau fun learning. Perlu untuk selalu diingat bahwa anak-anak adalah amanah dari Allah SWT. Wallaahu a’lam bish-shwab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar