MENGASAH EMPATI
MEMPERTAJAM JIWA SOSIAL
Memahami kondisi orang lain akan mempertajam kecerdasan sosial seseorang. Bagaimana sikap empati ini ditanamkan kepada anak – anak secara dini?
Empati merupakan sikap atau perilaku memahami suatu permasalahan dari sudut pandang atau perasaan lawan bicara. Egois, cuek dan tidak peduli merupakan representasi dari ketiadaan empati. Hal ini seringkali menjadi penyulut konflik.
Mengapa ada orang tua memilih perayaan ulang tahun anaknya di Panti Asuhan? Mengapa anak sesekali perlu diajak melongok anak – anak jalanan seusianya yang tinggal di kolong jembatan? Tentu agar dia melihat potret kehidupan orang lain, serta belajar untuk peduli dan memahami bahwa banyak anak – anak yang tidak seberuntung dirinya. Pada akhirnya kegiatan tersebut dapat memunculkan sikap dan perasaan empati.
Pola asuh empati (parenting empathy) berperan penting dalam perkembangan kesehatan psikologis. Kurangnya empati dapat meningkatkan resiko gangguan kepribadian, sikap depresi dan menyakiti diri – sendiri. Hal itu karena yang bersangkutan kurang bisa mensyukuri dirinya, karena kurang belajar empati.
Pada dasarnya setiap orang dibekali sifat welas – asih untuk saling membantu dan menyayangi antar sesama manusia, sesama makhluk hidup dan lingkungannya. Anak yang dikatakan nakal dan pemberontak sekalipun dapat tersentuh hatinya bila melihat langsung penderitaan kaum papa maupun korban bencana. Ketika jiwa empati muncul, hati pun tergerak untuk membantu.
Empati erat kaitannya dengan kepekaan atau kecerdasan sosial (inter personal quotient). Keduanya perlu ditanamkan sejak usia dini. Perlu diingat juga bahwa empati melibatkan afeksi dan emosi. Padahal, kemampuan anak mengelola emosi dengan baik juga berkaitan dengan kecerdasan emosional alias emotional quotient (EQ).
EQ merupakan salah satu aspek kecerdasan yang konon lebih penting dibandingkan IQ (intelegency quotient). Baik IQ maupun EQ menjadi bagian dari kecerdasan interpersonal yang harus diasah dalam keseharian si anak. Kecerdasan interpersonal harus dimulai sejak usia dini dan dimulai dari rumah.
Komunikasi efektif antara orang tua – anak begitu kerap didengungkan. Tentu bukan tanpa alasan, karena cara orang tua membangun komunikasi dan hubungan dengan anak akan sangat berpengaruh terhadap perkembangan sosial emosional si anak dan terbawa hingga dia dewasa kelak.
Untuk itu, orang tua harus menciptakan kedekatan dengan buah hatinya dari segala aspek. Misalkan melalui kebiasaan curhat yang akan membangun dan meningkatkan kualitas interpersonal dengan lingkungan sosial yang lebih luas.
Bersahabat dengan anak adalah memungkinkan jika orang tua mau dan mampu mengembangkan empati terhadap suasana hati anak dalam skala yang terkecil sekalipun. Hal ini pun bisa dilakukan di Sekolah antara pendidik dan anak didik.
Komunikasi yang efektif dapat mendorong terciptanya keterbukaan. Anak akan bersikap terbuka bila ada rasa aman dan nyaman yang terbangun dari kedekatan dengan orang tua dan rasa percaya diri anak. Padahal, kepercayaan diri akan terpupuk jika anak diberi kebebasan yang sesuai haknya. Antara lain mengemukaan pendapat, mengekspresikan diri, berasosiasi dan bermusyawarah, hak memiliki privasi dan hak diberi informasi.
Kebebasan adalah dasar dari sifat mandiri secara emosional, dan ini perlu dipelajari secara aktif – partisipatif. Partisipasi merupakan sebuah ekspresi dari kemampuan anak untuk berpikir dengan caranya sendiri, membagi ide dan membuat keputusan sendiri. (Sebuah hikmah dari Zulfikar,dkk. – Adik Asuh di bawah Jembatan Balubur Bandung).wallaahu a’lam bish-shawaab !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar